Mau Upgrade Kilang Balikpapan, Pertamina Pedekate BUMN Azerbaijan

shares

Loading...
Pertamina mendekati BUMN Migas Azerbaijan, SOCAR untuk melakukan investasi upgrade kilang minyak di Balikpapan. Memorandum of Understanding (MoU) kerjasama sedang difinalisasi dan diharapkan bisa disepakati dalam forum Caspian Oil & Gas Exhibition yang berlangsung di Baku, Azerbaijan pada 29 Mei-1 Juni 2018.

"Dalam rangka kemandirian dan ketahanan energi nasional Pertamina kan mendapat penugasan, bagaimana memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Nah sekarang itu, kita kapasitas kilang kita 900 sampai 1 juta (barel). Sementara kebutuhan minyak kita sampai ekuivalen dengan 1,6 juta. Nah untuk itu kita harus membangun tadi. Kalau nggak kita harus impor terus. Kita harus bangun infrastruktur, bangun kilang. Nah Pertamina sudah punya 2 inisiatif strategis, pertama upgrade kilang-kilang lama, kedua bangun kilang baru ," ujar SVP Project Execution Pertamina, Ignatius Tallulembang, di sela-sela buka puasa bersama di Wisma Indonesia KBRI Baku pada Selasa (29/5/2018) malam.


Nah, salah satu kilang lama yang akan di-upgrade adalah kilang di Balikpapan.

"Salah satu yang potensial ini, ya kita kan harus mencari partner ya, salah satunya untuk upgrade kilang Balikpapan. Ini lagi penjajakan mudah-mudahan SOCAR, BUMN-nya Azerbaijan, mudah-mudahan, karena dia udah supply minyak ke sana (Balikpapan), dia tertarik untuk investasi. Salah satunya ya perisapan lelang upgrade kilang Balikpapan kita prioritaskan," imbuh Ignatius.

Nila investasi dari upgrade kilang Balikpapan, sekitar US$ 5 miliar-6 miliar atau berkisar antara Rp 70 triliun-Rp 84 triliun (US$ 1 = Rp 14.000).

"Tentunya kita tetap harus majority. kita belum tahu persis detailnya berapa. Kalau dia bisa masuk tentunya Pertamina tetap harus majority, di atas 50 persen, ini sangat fleksibel, tergantung hasil dari negosiasi. Tapi yang pasti kita tetap harus majority, karena ini kilang lama Pertamina," tutur dia.


Pertamina mendekati SOCAR dari Azerbaijan, karena di kilang lama seperti di Cilacap, Pertamina sudah menggandeng Saudi Aramco dan di kilang Tuban, Pertamina sudah menggandeng Rosneft dari Rusia.

Delegasi Pertamina akan membahas lebih lanjut dan finalisasi MoU berkaitan dengan ajakan berinvestasi di upgrade kilang Balikpapan dalam forum Caspian Oil & Gas Exhibition di Baku. MoU yang sedang dilakukan, imbuh Ignatius, baru draft dan belum final.

"Nego awal untuk MoU, optimis karena penjajakan dan diskusi sudah ada, diskusi awal, draftnya MOU juga sudah ada. Isinya ada masalah trading, infrastruktur, kilang dan turunannya petrokimia. Nota kesepahaman ini kan belum mengikat, nanti setelah bertemu, kita lihat perkembangannya," imbuh dia.

Impor minyak

Selain menggandeng SOCAR berinvestasi meng-upgrade kilang minyak Balikpapan, Pertamina juga melakukan pendekatan untuk menambah volume impor minyak dari Azerbaijan. Ancang-ancang menambah volume impor minyak dari Azerbaikan ini diungkapkan SVP Integrated Supply Chain Pertamina, Toto Nugroho.

"Hubungan antara Pertamina dengan SOCAR sudah cukup lama, sejak 2007, kebetulan minyak mentah dari Azerbaijan ini sangat cocok untuk kilang kita. Jadi dia digunakan di kilang Balikpapan dan kilang Cilacap. Dan selama ini kita rutin impor dari sana. Sebulan bisa sampai 100 ribu barel," jelas Toto di tempat yang sama.

"Nah kita harapkan, karena kita jangka panjang, mudah-mudahan bisa kita tingkatkan volumenya, ini dibantu secara Government to Government, sekarang masih Business to Business antara antara Pertamina dengan SOCAR. Kalau nanti bisa ditingkatkan antara G to G itu kita bisa mensecure (mengamankan) untuk pasokan energi kita, jangka panjang," urai dia.

Selama ini hampir 40% kebutuhan minyak bumi Indonesia diimpor. Dari Afrika Barat, Arab Saudi dan Azerbaijan.

"Itu kita bagi sesuai kebutuhan, tapi satu bulan sekitar 900 ribu barel, nilainya cukup signifikan. Karena dengan kondisi minyak seperti ini, bisa dikalikan sendiri tuh satu tahun, kemarin angkanya kira-kira 900 ribu barel dikali katakan US$ 70 sudah US$ 630 juta setahun," jelasnya.

Nah MoU atau nota kesepahaman untuk menambah volume impor minyak Azerbaijan juga sudah disiapkan. Diharapkan kerjasama B to B bisa meningkat ke taraf G to G

"Nah itu (kerjasama G to G) kita kerjasamakan juga dengan Kemlu dan Pak Dubes juga mendorong kalau bisa tercapai, agar pasokan bisa lebih jangka panjang lagi," jelasnya.

Bila ada kerjasama jangka panjang dan proyek khusus, diharapkan harga per barelnya bisa didiskon kurang dari US$ 70.

"Mudah-mudahan kalau jangka panjang ada pengurangan harga. Sekarang harga internasional saja karena B to B, mudah-mudahan kalau G to G bisa ada harga diskkon atau harga khusus," harap dia.

Lantas apa keunggulan minyak Azerbaijan sehingga perlu menambah volume impor?

"Keunggulannya karakter minyak dia itu nilai sulfurnya kecil. Dan dengan sulfur yang kecil itu cocok untuk kilang-kilang kita. Kalau sudah cocok, lihat volumenya. Karena kalau ke depan, Indonesia makin ke depan makin perlu impor. Pricenya cukup bersaing, makanya kami jauh-jauh ke Indonesia ke Azerbaijan, berapa ribu kilometer ini," tandas dia. (nwk/hns)
Loading...