NasDem: Baiknya Ibu Ratna Periksa Melawan Lupa Versi Pak Prabowo

shares

Loading...
Aktivis Ratna Sarumpaet mengkritik penunjukkan Ketum MUI KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 dengan mengungkit 'Menolak Lupa Fatwa MUI'. NasDem menyarankan Ratna juga 'menolak lupa' terhadap sejarah Prabowo Subianto selama berdinas di satuan TNI.

"Kalau melawan lupa, baiknya Ibu Ratna ngecek melawan lupa versi Pak Prabowo. Semua peristiwa-peristiwa militer dulu yang menggunakan kekuatan pada saat jadi perwira tinggi militer itu apa saja riwayatnya," kata Sekjen NasDem Johnny G Plate kepada detikcom, Sabtu (11/8/2018).


Johnny mengatakan tentu ada sejumlah prestasi yang ditorehkan Prabowo ketika menjadi perwira militer. Namun, dia meminta Ratna tidak tutup mata terhadap peristiwa sejarah yang melibatkan Prabowo hingga disidang melalui Dewan Kehormatan Perwira (DKP).

Baca juga: (Ratna Serang Ma'ruf Amin, Golkar: Andai Jokowi Pilih 'Malaikat' pun, Dia Tetap Tak akan Dukung)

"Pasti ada kehebatan-kehebatan ya kan. Termasuk juga mengecek proses sidang Dewan Kehormatan Perwira. Kan ada tuh di YouTube. Tanyakan juga kenapa tidak dilakukan mahmakah militer yang di Puspom. Tanya juga saksi-saksi yang dulu terlibat di DKP. Ada Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), juga di situ kan, ada Pak Agum Gumelar, Pak Fachrul Razi yang dulu jenderal-jenderal yang masuk DKP," ujar Johnny.

"Buka semua file bagaimana cerita-cerita yang masih terekam di jejak digital media, bagaimana cerita di situasi terakhir pemerintahan Orba atau awal-awal reformasi. Jadi kalau mau semua disandingkan kebaikannya, rekam jejaknya, karya-karya untuk negara, termasuk penugasan-penugasan negara yang pernah dilakukan," imbuh dia.

Johnny pun berharap Ratna tak hanya mempertanyakan pencalonan Ma'ruf. Ia menyarankan Ratna meluangkan waktu untuk memelajari semua paslon di Pilpres 2019: Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga Uno.

"Jadi kalau mau bikin begitu, bikin yang baik semuanya dengan cara yang benar. Jangan pakai opini, tapi pakai data. Bagus juga kalau bertanya soal keempatnya, tanyakan semua, jadi tahu semuanya untuk memilih. Demokrasi harus begitu. Kami menyarankan tanya semuanya, agar masyarakat tidak seperti memilih kucing dalam karung," urai Johnny.

Sementara itu, soal kritik usia Ma'ruf yang dilontarkan Ratna, anggota Dewan Pakar NasDem Teuku Taufiqulhadi menilai hal tersebut tak relevan. Menurut Taufiqulhadi Ma'ruf justru melengkapi Jokowi dalam sisi kedewasaan berpolitik.

"Sisi wise dari pak Ma'ruf Amin untuk melengkapi. Beliau juga bukan ulama salaf biasa, tapi ulama salaf plus," ujar Taufiqulhadi.

Dia juga menilai Ma'ruf sebagai sosok ideal untuk mendampingi Jokowi. Ma'ruf punya keahlian di bidang ekonomi.

Baca juga: (Dinilai 'Kurang Ajar' Terhadap KH Ma'ruf Amin, Ketum GP Ansor: Ratna Sudah Tua, Tobat)

"Karena dia juga bisa dianggap teknokratis, beliau punya keahlian yang dibutuhkan. Beliau ahli masalah ekonomi syariah. Latar belakang pendidikan beliau adalah ekonomi syariah. Maka ketika beliau bicara ekonomi keuatan, ini orangnya. Ekonomi kan sekarang persoalan penting. Jadi beliau ini ulama dan teknokratis," terangnya.

Ratna Sarumpaet menyampaikan kritik terhadap Ma'ruf Amin yang dipilih Jokowi sebagai cawapres. Hal itu disampaikan Ratna lewat akun Twitter @RatnaSpaet.

Dalam salah satu cuitannya, Ratna mengunggah 'Menolak Lupa Fatwa MUI' yang ramai dibahas netizen. Ratna menyertakan foto Ma'ruf Amin dan tangkapan layar artikel soal Fatwa MUI tak boleh pilih pemimpin ingkar janji.

Ratna kemudian mengaku mempertanyakan alasan Jokowi memilih Ma'ruf. Salah satu alasan lainnya, Ma'ruf dinilai terlalu tua.

Editor Picks:
Kementerian PUPR Kembali Turun Tangan Atasi Bau Tak Sedap Kali Item
Penunjukkan KH Ma'ruf Amin oleh Jokowi Direncanakan Sejak 2017, Ini Kronologinya

"Ya buat apa Ma'ruf Amin diambil sebagai wapres, secara usia uzur sakit pula, sakit jantung, lemah jantung kan dia. Orang boleh dong, aku bertanya-tanya dong, di politik kan mau apa," kata Ratna.

(tsa/tsa)
Loading...