Akhirnya Jack Boyd Lapian Resmi Laporkan Fadli Zon ke Bareskrim Polri, Ini Kasus dan Pasalnya

shares

Loading...
Ketua Umum Banteng Network Jack Boyd Lapian melaporkan Fadli Zon ke Bareskrim terkait kasus penyebaran hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. Fadli Zon dianggap paling berkukuh mem-posting soal penganiayaan Ratna.

"Laporan ini terkait dengan kasus dari Ratna Sarumpaet yang sebetulnya disebarkan oleh Saudara Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI, di Twitter-nya," ujar Jack di gedung Bareskrim, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2018).


Dia menilai Fadli Zon-lah yang pertama kali mendapat cerita dari Ratna. Jack menyebut Fadli Zon juga sering mem-posting pengakuan penganiayaan tersebut melalui akun Twitter.

Baca ini juga:
Dokter RS Bina Estetika Tolak Beri Kesaksian di Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet, Ternyata Ini Alasannya
Jokowi Terbitkan Aturan Baru, Pelapor Kasus Korupsi dan Suap akan Diberi Hadiah Rp200 Juta

"Saya melihat ada unsur, Ratna ini berceritanya awal ke Fadli Zon, baru ditemukan ke Prabowo, nah mengapa di sini tuh hanya Fadli Zon (yang dilaporkan), karena saya melihat di Twitter-nya ini, beliau yang paling ngegas. Narasinya itu bisa dilihat dari tanggal 1-2 Oktober 2018," ucapnya.

Pelaporan itu tercatat dalam surat laporan polisi nomor: LP/B/1247/X/2018/Bareskrim tertanggal 9 Oktober 2018. Fadli dilaporkan atas dugaan tindak pidana penyebaran berita hoax.

"Hari ini saya laporkan Fadli Zon dengan dugaan tindak pidana penyebaran berita bohong atau hoax UU No 1 Tahun 1946 tentang pidana KUHP Pasal 14 ayat 1 atau 2 dan KUHP Pasal 55 ayat 1," tuturnya.

Lintasan Terkini:
Jangan Mau Digoreng, Ternyata Begini Cerita Sebenarnya Paspampres Membenarkan Posisi Jari Warga di Acara Jokowi
Sering Kritik Jokowi Tapi Tak Masuk Timses Prabowo-Sandi, Fahri Hamzah: Gak Laku? Nggak Lihat Saya Gagah Begini?
Diduga Nge-Twit dari Sel Penjara, Polisi Sita Handphone dan Laptop Ratna Sarumpaet

Jack meminta Fadli Zon tidak hanya meminta maaf. Ia juga menginginkan proses hukum tetap berjalan.

"Fadli Zon sendiri sudah pernah mengatakan sebelumnya bahwa tindak pidana itu tidak mengenal kata 'maaf', tidak ada. Hukum tetap harus berproses," pungkasnya.

Detik
Loading...