Bohong Seperti Ratna Sarumpaet, Apakah Termasuk Gangguan Jiwa?

shares

Berbohong adalah perilaku yang manusiawi, tiap individu bisa saja khilaf melakukannya. Tapi ketika kebohongannya sampai menggemparkan banyak orang, apakah termasuk gangguan jiwa?

Ratna Sarumpaet membuat sebuah pengakuan yang menggemparkan. Setelah diisukan mengalami penganiayaan, Ratna memberikan bantahan. Ia mengaku dianiaya hanya untuk berbohong ke anaknya. Dampaknya, banyak orang jadi heboh karenanya. Banyak pula yang mengaitkannya dengan masalah kejiwaan.



"Belum tentu bohong patologis. Butuh pemeriksaan," jelas Ratih Zulhaqqi, psikolog klinis dari RaQQi - Human Development & Learning Centre saat dihubungi detikHealth, Rabu (3/10/2018).

Bohong patologis yang dimaksud Ratih merupakan bohong yang dipicu oleh masalah kejiwaan. Biasanya, bohong semacam ini merupakan perilaku yang tidak bisa dikontrol oleh yang bersangkutan.

Sementara yang terjadi pada Ratna, menurut Ratih bisa disebabkan oleh banyak kemungkinan. Bisa jadi cuma karena sedang khilaf dan tidak punya alasan lain, sehingga asal nyebut saja. Kemungkinan berada dalam pengaruh obat juga termasuk di antaranya.

"Bisa juga faktor seeking attention, sehingga merasa perlu memunculkan cerita dramatik," kata Ratih.

Faktor lain yang tidak bisa dikesampingkan adalah usia, mengingat usia Ratna Sarumpaet sudah menginjak 69 tahun. Di usia-usia lanjut, fungsi otak sangat mungkin mengalami penurunan.

"Soal itu bisa ditanyakan ke dokter saraf," saran Ratih.

DETIK
loading...