Jelaskan soal Bendera Tauhid yang Dibakar, Begini Video Pengakuan Mengejutkan Eks Jubir HTI

shares

Loading...
Eks jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto menegaskan bahwa HTI tidak pernah memiliki bendera organisasi resmi.

Ismail masih berkukuh bahwa bendera yang dibakar oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) Garut adalah bendera atau panji Nabi Muhammad.

"Bendera yang dibakar itu bukanlah bendera HTI, HTI tidak pernah punya bendera," katanya lewat akun twitter pribadinya @ismail_yusanto, Selasa (23/10).


Ismail kemudian mengutip hadis soal bendera Rasulullah dalam riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi. Hadis tersebut menjelaskan bahwa bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya 'La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah'.

"Jadi bendera Rasulullah ada Ar-Raya warnanya hitam, Al-Liwa warna putih," katanya.

Menurut Ismail, kalimat tauhid dalam bendera yang kerap dibawa HTI dalam setiap acara dan aksi adalah kalimat mulia dan inti dari risalah Islam. Kalimat tauhid itu, kata dia, semestinya dihormati oleh seluruh umat Islam.

"Kalimat tauhid itu harusnya dijunjung tinggi karena kita menjadi muslim dan mulia karena kalimat itu," ujarnya.

Sebelumnya Ismail membantah alasan yang diungkap Gerakan Pemuda Ansor yang membakar bendera dengan tulisan tauhid di atasnya.

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyebut alasan pembakaran yakni untuk menghormati kalimat tauhid. Yaqut menilai kalimat tauhid pada bendera hitam itu bukan tempat semestinya.

Menurut Yaqut pembakaran itu wajar dilakukan seperti halnya ketika menemukan sobekan mushaf Alquran yang juga harus dibakar.

Ismail tidak setuju. Menurutnya, itu jelas bukan sobekan mushaf Alquran melainkan bendera bertuliskan kalimat tauhid Lailahaillallah.

"Apakah itu sobekan? Itu bendera. Bukan sobekan. Kalimat tauhid utuh, benderanya utuh. Artinya, ini urusan dengan pemiliknya, yaitu Allah SWT," ujarnya.

Ismail lantas memberikan analogi untuk membantah alasan Yaqut. Ismail mengatakan orang yang ingin menyelamatkan Alquran tidak bisa dilakukan dengan cara membakar Alquran. Selain itu, lanjutnya, orang yang ingin menyelamatkan tempat ibadah tidak bisa dilakukan dengan cara membakarnya pula.

"Bagaimana kalau ada yang mengklaim menyelamatkan istana dengan membakar istana," katanya.

Lebih dari itu, Ismail kembali mengingatkan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pernah menegaskan bahwa bendera yang bertuliskan kalimat tauhid bukanlah bendera milik HTI.

"Bahkan Kemendagri sudah mengklarifikasi bahwa itu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia," lanjutnya.


Cnn
Loading...