Mengaku Tidak Dendam, Eks 212: Kami Siap Berjuang Bareng Ahok dan Ahokers Menangkan Jokowi di Pilpres 2019

shares

Loading...
Sejumlah aktivis aksi bela Islam 212 mendeklarasikan dukungan kepada pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Mereka membentuk kelompok relawan dengan nama eks 212 kawal KH Ma'ruf Amin.

Di satu sisi, tak menutup kemungkinan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang diprediksi akan bebas bulan Desember 2018 atau Januari 2019, akan ikut juga mendukung Jokowi. Diketahui, lahirnya 212, di awal karena tak suka akan apa yang dilakukan Ahok. Terutama dianggap menyinggung umat Islam.


Terkait hal ini, Koordinator Eks 212, Razman Arief Nasution, mengatakan, pihaknya bukan pendendam. Apalagi Ahok sudah menerima konsekuensinya.

Baca ini juga:
Bungkam Slogan Prabowo 'Make Indonesia Great Again', NasDem: Lucu Banget, Sudah Tiru Trump, Salah Pula
Sindir Jokowi Tak Berani Pentingkan Rakyat Indonesia, Prabowo Subianto: Make Indonesia Great Again

"Bagi kita itu bukan pendendam dan kita tidak pernah menganggap mereka menjadi musuh, itukan dulu ketika beliau sebagai pemimpin dam menyatakan satu pendapat tentang Alquran yang dinilai menista agama," ucap Razman di Posko Cemara, Jakarta, Kamis (11/10).

Menurut dia, tak ada istilah dalam Islam untuk saling memusuhi, terlebih Ahok sudah mendapatkan ganjarannya. Apa yang terjadi di masa lalu, dipandangnya bentuk konsekuensi logis terhadap suatu perbuatan.

Karenanya, jika sekarang, baik Ahok maupun pendukungnya berkerja sama dengan pihaknya untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf, jelas itu hal yang baik.

"Jadi mau Ahok langsung, mau Ahokers juga, tidak ada masalah. Kita bersyukur dia bisa lebih dekat dengan kita," jelas Razman.

Lintasan Terkini:
Dukung KH Ma'ruf Amin di Pilpres 2019, Kapitra Ampera: Maaf, Prabowo-Sandi Bukan Ulama
Bicara Di Hadapan para Ulama LDII, Prabowo Subianto: Kita Bangsa yang Tambah Miskin

Senada, aktivis 212 lainnya, Kapitra Ampera, menuturkan, pihaknya tak sama sekali membenci Ahok. Hanya waktu itu tak sependapat dengan apa yang disampaikannya.

"Ketika menyimpang, maka ada konsekuensi hukum. Ketika dia melangkah dan berserah, dan telah menjalani, sudah selesai itu urusan. Tidak ada lagi dendam diantara kita," tuturnya.

Merdeka
Loading...