Pesan Terakhir Dokter Ibnu, Dikirim Malam, Baru Dibalas Pagi, Ada Pertanda Tak Biasa Sebelum Kejadian Lion Air

shares

Loading...
Dokter spesialis penyakit dalam RSUD Bangka Tengah (Bateng), Ibnu Fajariyadi Hantoro menjadi korban akibat kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang di Tanjung Karawang, Senin (29/10/2018).

Dokter Ibnu diketahui sempat mengirimkan pesan Whatsapp kepada sopir RSUD Bateng untuk minta dijemput.


Kabid Pelayanan dan Kefarmasian RSUD Bangka Tengah, Aries Noordiyanto, mengatakan sebelum pesawat dipastikan jatuh, Dokter Ibnu sempat mengirimkan pesan kepada sopir untuk minta dijemput.

"Ia sempat minta jemput mengirim pesannya pukul 01.56 WIB, ia kontak ke sopir RSUD, tetapi sopir baru melihatnya jam 07.00 pagi. Dia balas nomornya sudah tidak aktif," jelas Aries kepada wartawan, Senin (30/10/2018).

Ketika membalas pesan itu, kata Aries sopir RSUD hanya melihat centang satu, yang artinya nomor si pengguna sudah tidak aktif.

"Dari kejadian ini kita berencana mendatangi rumah dokter yang ada di Depok untuk bersilaturahmi, namun kita masih menunggu sampai ada kepastian dan ditemukan korbannya," lanjutnya.

Selain itu, kata Aries sebelum pergi ke Jakarta, Dokter Ibnu sempat terlihat akrab dengan para perawat di RSUD.

Dia bernyanyi dan bercanda gurau dengan para perawat di rumah sakit.

"Ia sempat mengatakan kepada perawat yang bertugas di Poli, saya tinggal 100 hari lebih bekerja di sini, karena dia hanya satu tahun bertugas dan telah menyelesaikan tugasnya sembilan bulan di rumah sakit," jelasnya.

Arie juga bercerita pada Jumat pekan lalu Dokter Ibnu tak seperti biasanya, terlihat sangat dekat dan akrab bersama para perawat di RSUD Bangka Tengah.

"Jumat kemarin ia mengajak ngobrol dengan perawat bernyanyi pula, padahal pendiam orangnya, tetapi Jumat kemarin sangat ramah begitu. Tetapi kita tidak tahu namanya orang mau meninggalkan sesuatu," lanjutnya.

Dikenal Pendiam

Aries Noordiyanto menceritakan, dalam keseharian Dokter Ibnu bekerja di RS orangnya pendiam namun selalu taat dengan agama.

"Memang orang tidak banyak berbicara pendiam, tetapi dengan pasien baik pelayananya bagus, orangnya juga sering beribadah, kita sangat berduka atas kejadian ini," lanjutnya.

Pihak RSUD merasa sangat kehilangan dan kekurangan dokter spesialis penyakit dalam karena perginya Dokter Ibnu.

"Sementara ini sambil menunggu adanya dokter spesialis baru, Kepala Direktur merangkap dan terpaksa harus turun tangan untuk melakukan tugasnya, tentu ini sangat berat," jelasnya.

TribunNews
Loading...