Puteri Habib Rizieq Tertahan di Oman, Kuasa Hukum: Pemerintah Harus Cepat Turun Tangan

shares

Loading...
Kuasa hukum Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, Sugito Atmo Prawiro membenarkan informasi bahwa salah satu putri Rizieq tertahan bersama lebih dari 150 mahasiswa asal Indonesia di Oman.

Menurut Sugito, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Oman tidak mengeluarkan visa kepada rombongan mahasiswi Indonesia itu saat akan berangkat ke Yaman untuk studi.


"Jadi yang visanya tidak keluar itu bukan putrinya Habib Rizieq saja, tapi ada 150 lebih mahasiswa Indonesia," kata Sugito kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/10).

Pihaknya pun tidak menaruh kecurigaan tertahannya putri Rizieq berkaitan dengan politik atau diskriminasi terhadap keluarga Rizieq secara khusus. Menurut Sugito, permasalahan tersebut muncul karena ada persoalan protokoler yang tidak tuntas antara pemerintah Indonesia dengan Oman atau Yaman.

Lintasan terkini:
Ada Rahasia Apa? Pengacara: Ayo Bu Ratna Sarumpaet, Buka-bukaan saja, Jangan ada yang Ditutupi
Heran Kok Bisa Masuk Timses Prabowo, Elite PKS: Ratna Sarumpaet Kan Pendukung Ahok
Bungkam Gerindra, Tsamara Amany: Kepuasan Kinerja Jokowi 73,4%, Pengangguran 5%, Inflasi Stabil 3%

Menurut informasi yang diperoleh Sugito, hanya pelajar Indonesia yang dilarang masuk ke Yaman lewat Oman. Sementara pelajar asal Malaysia dan Thailand yang juga sedang berada di Oman bersamaan dengan pelajar Indonesia yang tertahan, telah mendapatkan visa untuk bertolak ke Yaman.

"Ini pemerintah harus cepat turun tangan, karena ini menyangkut nasib pelajar Indonesia yang masih terkatung-katung di Oman," kata Sugito.

Sementara itu, Ketua Front Mahasiswa Islam FPI Ali Alatas menjelaskan usai eskalasi konflik dan perang di Yaman meningkat, para pelajar Indonesia harus melewati perbatasan Oman-Yaman agar bisa masuk ke kota pelajar di Yaman yang bernama Hadhramaut.

"Baru-baru ini ada aturan baru dari Oman bahwa setiap pelajar Indonesia yang ingin memasuki Yaman harus dibekali pengantar dari KBRI," kata Ali kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/10).

Namun sayangnya, KBRI yang awalnya berada di ibu kota Yaman, San'a, kemudian pindah beroperasi ke Sulalah Oman, tidak juga menyelesaikan masalah administrasi 150 pelajar Indonesia yang ingin berangkat ke Hadramaut.

"Semoga kemenlu kita doakan bisa memberikan jalan keluar yang terbaik," kata Ali.

Jika terlewatkan, sayang sekali:
Kubu Lawan Jokowi Nyinyir, Panitia IMF-World Bank 2018 Malah Beberkan Fakta yang Berlawanan
Anies Baswedan Resmi Mengganti Nama OK Otrip dengan 'Jak Lingko', Ini Alasannya

Ali memastikan Hadramut adalah wilayah yang sangat aman, jauh dari konflik. Banyak negara lain yang sudah lebih cepat, seperti Malaysia dan Thailand yang telah menyelesaikan persoalan administrasi di wilayah Oman-Yaman sehingga pelajar yang berasal dari kedua negaranya bisa masuk Hadramaut.

"Tinggal pelajar Indonesia yang tertahan karena masalah administrasi. Mereka menunggu kepastian diberikannya surat rekomendasi dari KBRI," kata Ali.

Sudah Tertahan 3 Minggu

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman mengungkap bahwa 160 pelajar aktif kebingungan tak bisa melintasi perbatasan Oman untuk kembali belajar di Yaman. Kebingungan ini telah berlangsung selama tiga pekan.

"Tiga minggu berlalu, kasus tertahannya para pelajar di perbatasan Oman semakin bertambah dan tanpa solusi. Para pelajar aktif yang kembali dari liburan kebingungan melihat fakta mereka tidak diperbolehkan kembali melintasi perbatasan Oman meskipun memiliki visa," ujar Ketua PPI Yaman Izzudin Mufian Munawwar, melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com pada Senin (8/10).

Para menilai KBRI Yaman sebagai pihak yang ditugaskan untuk melayani WNI malah mengabaikan tanggung jawab mereka. Mereka membandingkan kedutaan dari negara-negara lain yang tanggap dalam menyelesaikan kasus ini.

"Mengherankan sekali melihat sekelompok orang yang diutus dan difasilitasi oleh negara dengan uang rakyat berpangku tangan mengabaikan nasib rakyat Indonesia dan tidak mampu membela harga diri WNI di luar negeri," lanjutnya.

Yakin mau Abaikan ini:
Tanggapi Tudingan Antek Asing, Satu Jawaban Telak Jokowi ini Bikin Lawan Gigit Jari
Dahnil Sebut Acara IMF Foya-foya Di Tengah Bencana Sulteng, Ini Balasan Menonjok PSI dan PDIP

Dia juga menambahkan bahwa memang selama bertahun-tahun KBRI Yaman tak pernah berkunjung dan melihat kondisi Hadramaut di mana ribuan WNI belajar. Padahal di kota tersebut, adalah tempat yang aman bahkan menjadi titik evakuasi WNI di kala daerah lain tercetus konflik Yaman.

Sebanyak 95 persen pelajar Indonesia aman dan bebas belajar melaksanakan kegiatan mereka, termasuk mengadakan upacara bendera saat hari kemerdekaan setiap tahun.

"Melihat fakta dan realita yang ada di lapangan, kami PPI Yaman menghimbau kepada pemerintah dan pihak-pihak yang terkait agar meninjau kembali kinerja Kedubes Indonesia yang berada di Salalah-Oman," ujarnya.

CNN
loading...