Irwan Mussry Bagikan Crita Masa Kecilnya, Beda dari Anak Lainnya dan Merasa Aneh

shares

Irwan Mussry membagikan cerita masa kecilnya, ia justru merasa aneh dan beda dari anak lain karena hal ini.

Pernikahan Maia Estianty dan Irwan Mussry hingga kini masih menjadi sorotan.

Pasalnya, setelah bercerai dengan Ahmad Dhani 10 tahun silam, Maia akhirnya menemukan pasangan hidupnya.


Hubungan Maia dan Irwan memang sangat tertutup dari media.

Sejak itu lah sosok Irwan menjadi perhatian dan banyak dikagumi oleh warganet.

Diketahui, Irwan berprofesi sebagai President dan CEO Time Internasional.

Namun, siapa sangka ternyata ada sisi lain di masa kecil Irwan.

Ia mengaku jika masa kecilnya justru merasa aneh dan berbeda dari anak lainnya.

Seperti tim TribunStyle lansir dari Nakita.ID pada Sabtu (3/11/2018) Irwan menceritakan kisah masa kecilnya kepada Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator pada 2008 silam.


Bos jam tangan terkenal ini lahir pada 15 November 1962 di Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur.

Irwan lahir dalam keluarga multi ras, sang ibu berasal dari Solo, Jawa Tengah, sedangkan sang ayah keturunan Irak Arab Yahudi.

Sang ayah menjadi orang pertama di Indonesia yang menjadi konsultan untuk kedutaan Australia.

Ayah Irwan adalah sosok orang yang sangat suka menjalankan sebuah tradisi.

Sejak kecil, Irwan pun tumbuh dengan lingkungan yang multi ras dan terbiasa dengan adanya pesta dansa.

"Saya bisa memahami perbedaan dalam tradisi, agama, kepercayaan, kebiasaan maupun pendapat sejak saya masih keci. Apalagi kakak saya sangat Jawa," ucap Irwan.

Jiwa pebisnis yang dimiliki Irwan, rupanya menurun dari sang ayah.

Selain menjadi konsultan kedutaan, ayah Irwan juga pebisnis otomotif yang merambah bisnis jam tangan.

Tak heran jika kini Irwan pun terkenal sebagai pebisnis sukses dan menjadi kaya raya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) Irwan sudah banyak mendengar cerita seputar bisnis sang ayah.

Suami Maia ini pun merasa aneh ketika ia tertarik dengan cerita soal bisnis semasa kecilnya.

Bagaimana tidak? Anak-anak yang seharusnya tertarik bermain di usianya, Irwan justru senang ketika bermain sambil mendengar cerita seputar bisnis.

"Saya senang mendengarkan ayah bercerita tentang bisnisnya. Memang agak aneh ya, di masa anak-anak masih asyik dengan mainan. (Tapi) bukan berarti (saya) tidak suka mainan.

Tapi mendengarkan ayah dan mainan itu sama asyiknya. Saya memang senang mendengarkan cerita, apapun ceritanya termasuk bisnis kalau memang bagus ya saya suka," kata Irwan.

Hingga akhirnya, Irwan kecil bercita-cita ingin menjadi seorang pedagang.

"Berdagang adalah cita-cita saya sejak kecil," ucapnya.

Sejak SMP, Irwan sudah berpikir bagaimana cara mendapatkan dan memutar uang.

Sayangnya, saat Irwan masih berusia 8 tahun sang ayah telah meninggal dunia.

Kenangan dan cerita sang ayah soal bisnis menjadi bekal untuk Irwan berproses sebagai pengusaha yang kini membuat dirinya sukses dan kaya raya.

Tribun
loading...