Jokowi: Kalau buat isu yang cerdas gitu lho

shares

Loading...
Calon Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyindir sejumlah pihak yang kerap melontarkan isu bohong tentang dirinya. Apalagi isu tersebut masih beredar di media sosial.

Beberapa isu hoaks tersebut, kata Jokowi, antara lain mengenai tuduhan sebagai kader Partai Komunis Indonesia (PKI).


"Kalau buat isu yang cerdas gitu lho. Isu-isu enggak masuk akal dilempar. Tapi ada yang percaya itu. Coba lihat di medsos," ungkap Jokowi saat menghadiri deklarasi dukungan dari Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (3/11).

Jokowi menegaskan, isu yang mengaitkan dirinya dengan PKI tidak masuk akal. Sebab, kata Jokowi, PKI sudah dibubarkan pada 1965, sedangkan dirinya baru lahir pada 1961.

Belum lagi, ada gambar yang mirip dirinya ketika Ketua Umun PKI DN Aidit sedang memberikan pidato.

"Masa ada PKI balita. Ini lihat ada gambar saya. Ini Ketua PKI DN Aidit itu pidato tahuan 1955, saya lahir saja belum. Kok sudah mendampingi dia coba. Tapi kok ya mirip gitu. Astaghfirullah. Tapi ada yang percaya," terang Jokowi.

Selain soal isu PKI, Jokowi juga menepis isu yang menyatakan bahwa dirinya sebagai antek asing dan antek aseng selama menjalankan pemerintahan.

"Bagaimana bisa antek asing Blok Rokan dikelola Chevron berapa puluh tahun sekarang dipegang Pertamina 100 persen, Blok Mahakam 100 persen juga milik Pertamina," ucap Jokowi.

Ia pun mempertanyakan adanya tudingan tersebut. Pasalnya, kata dia, sejak pemerintahannya sejumlah ladang migas berhasil dikuasi dari pihak asing. Misalnya Blok Rokan, Blok Mahakam, dan tambang Freeport.

"Dipikir 3,5 tahun merebutkan ini mudah? Nggak ada ditekan (dari) kanan kiri atas bawah? Kalau nggak ada tekanan ya dari dulu sudah dapatkan. Ini sesuatu tak mudah. Alotnya negoisasi hadapi tekanan. Saya sampaikan ke menteri saya maunya mayoritas," tambah Jokowi.

"Terserah berapa tapi mayoritas. (selama) 3,5 tahun akhirnya tanda tangan agreement, tinggal konsorsium antam bayarnya sekarang. Rampung 51 persen," sambung dia.


Merdeka
Loading...